Saturday, 29 October 2016

Kumpulan kata-kata terbaik Tahun 2016

Maafkan aku Tuhan, karena sempat berfikir ingin meninggalkanmu hanya karena sebuah "rasa". Aku tau ini hanya mainan yang sewaktu2 bisa memakanku sendiri.


Tuhan, tolong jangan buat aku jatuh cinta, sebelum aku benar2 menemukan orang yang tepat.


Kesepian ini terkadang membuatku ingin mencari penggantimu. Namun aku sadar. Aku tidak akan pernah bisa melupakan luka itu.


Entah darimana aku bisa menjelaskan tentang semua ini, tapi yang pasti. Berada didekatmu aku merasa keyakinan yang luar biasa. Keyakinan yang selalu membuat aku percaya tentang masa depan. Sebuah rasa yang tak pernah mati saat bersamamu dulu...


Bukan ingin menggombal lalu aku menulis kata-kata ini. karena semua adalah curahan hati. Tidak perlu kamu dan yang lain tau, cukup aku, hatiku dan Tuhan saja. Untuk selebihnya.., biarlah waktu yang menjawab :)


Tenang saja! Aku takan mengganggumu saat bersamanya. karena semuanya telah terkendali dalam doa ;)


Sungguh... Tuhanpun juga tau akan inginku dalam seorang pendamping. Tak perlu muluk-muluk ataupun istimewa, cukup yang sederhana dan yang mampu bertanggung jawab akan Dunia, Akhiratku. Itu saja!


Aku kan juga ingin bahagia Tuhan, bahagia bersama orang aku sayangi. Permintaanku nggak banyak ko, cukup kirimkan seseorang yang benar-benar menyayangiku, yang bisa menerima kejelekanku, yang mampu menyempurnakan kekuranganku dalam tanggung jawab Dunia dan Akhiratku. Boleh kan?

Monday, 26 September 2016

What a Pity

There are a lot of smart people in this world. But unfortunately only a few of those who have understood the nature.
Some of them also pretend to be stupid just because they do not want to lose .
_Pity_


Tulisan Rindu


Kini aku ingin kembali menulis tentangmu.
Kamu yang selalu membuatku nyaman, tanpa pernah menertawakanku. Meski aku berbuat konyol sekalipun.
Kamu yang selalu membuatku bahagia. Memberiku semangat untuk membina sebuah "Impian", tanpa ada ganjalan tentang Status ataupun derajat.

Aku merindukanmu! Iyah, sangat merindukanmu.
Merindukan setiap kata-kata yang senantiasa memotivasi dari lisanmu.
Merindukan setiap pergerakan yang selalu menyemangati dari lincahnya otakmu.
Bahkan dari beberapa hari kemarin aku seperti orang bingung. Berbolak-balik mencoba mengingati tanggal lahirmu, hanya karena ingin mengucapkan. Oh bukan, lebih tepatnya untuk menjadi alasan aku bisa menghubungimu hmmm

Ikutkan hati memang ingin saja aku menerobos semua larangan yang sudah memisahkan kita, namun aku juga sadar, aku tidak mampu untuk itu.
Aku tidak mampu menyakitinya.
Aku tidak mampu menerawang jauh untuk semuanya.
Yang akhirnya memaksaku untuk diam, menikmati setiap rasa yang ada. Sendiri kumenangis, tanpa seorang pun tau lukaku.
Airmata seakan luapkan rasa sedihku.
_Malam ini_

Sunday, 25 September 2016

Cahaya Impian

Dari kejauhan kulihat satu Cahaya memancar dengan indahnya
Membawa naluriku bergerak ingin lebih mendekatinya
Saat ku sadar, ternyata jalanan itu sangat berliku.
Penuh duri, kabut asam dan kegelapan yang mematikan.
Aku bingung, antara lanjut ataukah berundur.
Namun, dari bawah kakiku seolah- olah ada sesuatu yang mendorongku untuk tetap maju.
Lalu, aku berjalan hanya berbekalkan keyakinan yang tak pernah pudar.
Kulihat cahaya itu sudah semakin dekat dari pandanganku
Tapi, tiba-tiba bayangan gelap datang menyelubungiku
Aku takut, lalu aku menangis dalam kepayahan.
Sendiri tanpa ada sesiapapun yang membantuku.
Lama kelamaan satu per satu kulihat bayangan itu pergi dengan sendirinya
Meninggalkan jejak yang memudahkanku untuk menyebrangi lautan didepanku
Aku bangun, dan mencoba melanjutkan perjalanku.
Yang akhirnya aku benar-benar ada dihadapan cahaya itu.
Mataku silau, hampir saja tak dapat melihatnya dengan jelas.
Tanpa sadar, Cahaya itu sudah berada dalam genggaman tanganku.
Aku pun tersenyum bangga dengan pencapaianku
Yang aku yakini itu hasil dari sebuah keyakinanku daripadaNya :)

Cintaku dari Facebook

Hari ini langit kembali mendung, menutupi sinar yang sedari tadi memancarkan pada dinding-dinding dunia. Memberi kesejukan dalam penantianku ditempat kenangan.
Iyah! Inilah aktifitasku, merenung dan berdiam diri. Bagai entah siapa aku sendiri juga tidak kenal. Malah terkadang aku bingung dengan sifatku sekarang-sekarang ini. "Aku merindukanya!" Lagi-lagi kata itu yang terpacul dari hatiku. Bosanya...
Dret.dret... Satu pesan masuk dalam inbox facebookku. Media Sosial yang sekarang menjadi tempat untuk aku mencari inspirasi, sekaligus ingin melupakan sang Mantan. Bukan karena aku mencoba lari dari masalah lalu membuat Facebook baru yang hanya bertemankan dari orang-orang yang kukenal saja. Namun aku tidak mampu selalu melihatnya, malah aku juga takut jika aku selalu berada di Facebook lama, ianya akan membuat aku untuk melihat ke Inbox. Tempat dimana kita selalu berdiskusikan sesuatu disaat facebook masing-masing aktif. Biarlah mereka mau bilang aku lemah, aku tidak peduli. Karena aku punya cara sendiri untuk mengatasi masalahku.

Aku mencoba melihat-lihat ke profil cowok itu yang aku lihat namanya adalah Fandi. Iya biarpun aku tidak tau itu nama asli atau bukan, aku tidak mau ambil peduli!
Lama juga aku mendiamkan inboxnya sebelum akhirnya aku accept untuk bisa berhubungan denganku lewat inbox. Karena pengaturan privacy yang sengaja kubuat, agar tidak sebarang orang bisa menggangguku. Apalagi dunia maya yang penuh dengan permainan 😪
"Hai" ucapnya
"Hai juga" balesku singkat.
"Pacarnya Ragil yah?" Tanyanya, yang membuatku berfikir apakah mau mengiyakan atau menidakan. Biarpun Ragil adalah sahabatku, kalau iya aku mengiyakan pun bukanya dia akan marah. Tapi hatiku lebih pantas mengingatkan.., "Jangan berbohong, kalau nggak mau dibohongin"
Dengan pantas jariku pun memencet-mencet tombol dalam handponeku. "Bukan. Saya temanya"
"Alah jangan bohong, jawab jujur saja" Dalam diam aku memarahinya, karena mengahakimi sesuatu yang jelas-jelas sudah berkata jujur. Lagi-lagi hatiku berbisik, "biasa cowok kalau mau kenalan kan emang gitu" pikiranku mengiyakan bisikan itu,  yang akhirnya membawa kita pada obrolan yang tadinya membosankan menjadi obrolan yang menyenangkan. "Bagi nomernya dong, biar bisa contact" tuturnya berani, meski aku tidak heran dengan keadaan seperti itu. Jangankan dalam dunia maya, dalam dunia nyata saja kalau cowok baru deket pasti langsung minta nomer dengan alasan yang menurutku basi. 😧
"Kan lewat facebook bisa" jawabku.
"Aku jarang buka Facebook" ucapnya lagi tanpa menyerah.
"Tapi mahal lho kalau ngubungin saya lewat nomer" Ujiku.
"Tenang saja, kan bisa pakai WhatsApp atau line"
"Hmmm emang yah cowok, pinter aja jawabnya"
"He iya dong. Yaudah mana nih!"
"+6581******. Nih"
"Thanks yah!"
Belum sempat aku membalas pesan inboxnya, tiba-tiba dia sudah ngechattku lewat WhatsApp. "Cepatnya" gumamku dalam hati.
***

Malam itu aku kembali membuka Facebook untuk menyegarkan fikiran setelah terperap 3 jam memandangi buku-buku didepanku. Kesibukan yang memang bener-bener mengambil tenaga juga otak.
Hampir satu jam aku berpetualang mengitari rimba yang penuh misteri. Hingga tidak sedar waktu belajarku telah habis. Aku segera membereskan semua buku-buku yang berserakan dan buru-buru keluar dari kamar untuk melanjutkan kerjaanku.
Hingga jam 19:15 aku kembali ke kamarku untuk mengambil baju ganti, tiba-tiba hapeku berbunyi.
Pink.pink...
Aku langsung membuka pesan itu yang ternyata dari Fandi. Kami pun berbalas pesan untuk beberapa menit, sebelum akhirnya aku pamit mau mandi.
Rasanya itu adalah malam ke tiga Fandi menghubungiku dari pertama dia mengetahui nomerku. Semua masih terasa biasa, malah aku juga bersikap biasa juga kepadanya. Sama seperti sikapku pada yang lain. Meski aku juga kadang tidak suka dengan cara tulisannya yang kadang membuatku Elfell. Tapi rasanya menghakimi itu bukanlah sifatku, ujung-ujungnya aku berpura-pura tidak peduli dengan semuanya. Lagipun aku merasa nyaman denganya, membuatkan aku lupa akan Mantan. Seseorang yang memang sudah seharusnya aku lupakan. Karena Mantan bukan pahlawan untuk dikenang. Itulah kata-kata Fandi yang sedikit banyak telah membuatku menyadari sesuatu.


45 hari pun berlalu...
Kekhawatiranku akhirnya pun kini terjadi. Fandi sudah lama tidak chatt aku lagi. Aku merasa kesepian walau hiburan didepan mataku sebenarnya banyak. Semua yang aku lakukan juga tidak kena. Seperti ada yang hilang. Hatiku pun merinduinya...
Perasaan cemas mulai menghantuiku.
Ingin menghubungi, namun aku tidak berani. Sudahnya jalan diam itulah yang aku pilih. Dan kembali mencari kesibukan baru tanpa mau memikirkanya, apalagi setelah kemarin aku melihat ke profilnya tidak sengaja mendapat info yang dia sebenarya sudah mempunyai Pacar. Hmmm cemburukah aku? Tidak, itu tidak mungkin. Karena aku yakin itu hanya perasaan setan saja yang sedang mengujiku. Aku mencoba menidakan dan kembali ke alam realita. Apalagi mengiyakan perasaan yang hadir, itu tidak akan kulakukan. Malah itu adalah sesuatu yang coba selalu aku hindari.

Siang itu aku memberanikan diri untuk mengechatt Fandi untuk bertanyakan sesuatu setelah aku lihat dia mengelike statusku. Meski sebenarnya itu hanya suatu alasan, tak apalah ya he...
"Aku lagi kerja Nit, maaf yah balesnya lama" tulisnya, setelah 1 jam aku menunggu balesan darinya.
"Iya tidak apa ko Mas."Kami pun kembali chatting lagi. Berbagi animation yang mengundang tawa dalam setiap tulisanya. Memberi ruang hatiku untuk merasa bahagia. Kebahagiaan yang aku tau itu hanya sesaat...

Friday, 16 September 2016

Buku karya BMI Singapore

Sinopsis: Aku lupa yang dia menggunakan jejaring sosial hanya untuk menghubungiku, karena sebelumnya dia tidak pernah suka akan hal itu. (Luka yang kusebut L)

Tuesday, 30 August 2016

Kaulah harapanku, Adik!



Ada harapan terselip dihati
Bersamamu Adiku yang kukasihi
Si lengus
Si Malas
Si Cuek
Itulah yang selalu Yu katakan padamu.

Namun, taukah kamu adiku
Bahwa ada cinta sebesar sastra dalam benaku
Ada pelita yang senantiasa ingin menyinari dalam gelapmu

Bukan, bukan tentang siapa yang ada bersamamu saat ini
Tapi, lihatlah siapa yang lebih mengambil berat tentang masa depanmu

Biarlah sekarang kau seperti Tahanan
Agar nanti kau bisa lebih menikmati kebebasan
Karena bahagia dalam keabadian itu lebih membanggakan
Daripada kekecewaan harapan pada pengertian

Yu bangga kepadamu Adiku
Yu bahagia punya kamu
Dan yang terpenting,
Yu sangat menyayangimu.

Hanya Saja Aku Takut

Seharusnya rasa ini memang sudah hilang Tapi tidak tau kenapa akhir2 ini rasa itu selalu menghampiriku. Seperti ada tapi tiada, Tiada tapi ianya memang ada.
Apa benar yah jika aku itu belum bisa move on? Ataukah ini bentuk dari rasa "trauma"? Ah Ntah lah, akupun bingung. Yang jelas setiap berhadapan dengan sesuatu yang belum pasti aku selalu merasa itu tidak jelas. Dan tidak tau kenapa aku pasti akan merasakan hal takut yang sangat luar Biasa Hingga membuat emosi hatiku tidak terkontrol. Iyah..! luka itu, Sakit itu, Dan kekecewa'an itu. Semua masih membekas dalam hatiku sampai ke hari ini. Dimana disa'at aku sudah mempunyai harapan dengan orang yang tersayang, aku harus bertentangan dengan takdir yang menyakitkan. Dimana aku berusaha berkomitmen, tapi Harus merasakan akhir yang mengecewakan. Mungkin aku terlalu lebay dalam hal ini Tapi emang ini lah yang aku rasakan sekarang. Lalu apakah aku harus munafikanya? Tidak semudah itu! Karna disini yang berbicara itu hati bukan mulut. Jadi apapun yang aku rasa, biarlah waktu yang menjawab. Bukan kamu atau pun mereka.

Sunday, 28 August 2016

Sajakku

Semua terasa begitu sangat membingungkan
Indah tapi kurasa sepi
Bercahaya tapi kurasa tiada
Menggapai syurga untuk apa dunia ini ada
Menanti senja untuk apa gulita menyapa

Kucoba untuk merasa
Namun kosong dalam jiwa
Kuberteriak sakit
Namun ternyata aku kuat

Hanya pada malam aku bisa berbicara
Hanya pada sepi aku bisa tersenyum
Menikmati cerita yang telah terbalut sunyi tak berujung

Thursday, 25 August 2016

Jiwa Manusia

Ada seseorang yang bertanya kepadaku, katanya...
     "Apakah ada yang lebih menyakitkan saat kita sudah mencintai seseorang, terus orang itu malah meninggalkan kita?" Lalu dengan pantas aku menjawab.
     "Ada."
Seseorang itu dengan wajah heran pun, kembali bertanya padaku.
     "Apa itu? Coba katakan"
Aku berdiam sejenak memperhatikan wajah seseorang yang ada dihadapanku. Mencari kepastian akan kesungguhan rasa ingin taunya.
     "Apa yang akan kau berikan padaku, sekiranya jawabanku mampu membuatmu tersadar?" Aku sengaja mengujinya. Dia pun terdiam setelah mendengar kata-kataku. Berfikir jauh...
     "Aku akan melupakan masa laluku"
     "Itu memang sudah seharusnya." Jawabku pantas.
     "Aku akan memberikan imbalan yang memuaskan kepadamu" Dengan nada sombong dia berbicara. Aku hanya tersenyum.
     "Aku tidak memberi harga pada setiap kataku, karena memang itu sudah tugasku untuk berbagi."
     "Ok. Jawablah!"
     "Apakah jawaban ini penting untukmu?"
     "Iyah."
     "Baiklah..."
Aku menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan kata.
     "Untuk pertanyaanmu itu jawabanya adalah..." Aku melihat kearahnya, yang begitu setia menanti jawaban yang akan keluar dari mulutku. Layaknya murid yang sedang fokus menunggu penjelasan sang guru. Sekali lagi aku pun tersenyum melihat tingkahnya.

     "Seseorang yang saling mencintai, tapi tidak bisa hidup bersama." Kulihat dia tertunduk setelah mendengar jawabanku, menitiskan air mata. Entah apa yang seseorang itu fikirkan pun aku tidak tau. Tapi yang pasti, aku lihat sinar penyesalan dalam tiap tetesan air matanya. Allahu Akbar...
     "Maafkan saya!" Ucapnya tiba-tiba.
     "Tidak ada yang harus dimaafkan. Kamu minta maaflah sama Tuhan, karena memang Dialah yang berhak untuk itu." Jawabku tenang.
     "Terima kasih" Ucapnya, dengan tangisan yang mulai terisak-isak.
     "Aku hanya mengatakan sesuatu yang memang sudah seharusnya aku benarkan. Karena pada hakekatnya... Diatas langit itu masih ada langit, didalam penderitaan kita itu pasti ada juga yang lebih menderita. Jangan fokuskan pada masalah hidupmu saja,  karena orang disekitar banyak yang masih membutuhkanmu. Membutuhkan kasihmu, menginginkan cintamu dan mengharapkan keikhlasanmu. Mulailah untuk bangkit, dan jadikan semua yang terjadi itu pelajaran." Dia mengangguk.
     "Saya akan memenuhi apapun yang kamu minta." Ucapnya disebalik rasa bersalah, yang saya tau, dia belum mengerti dengan apa yang aku ucapkan sebentar tadi. Susah. .. Iyah! Memang. Karena semua butuh pemahaman yang mendalam.
      "Aku tidak mengharapkan imbalan apapun darimu. Cukup pahami saja setiap kata-kataku, itu saja sudah cukup untukku" Aku berlalu pergi meninggalkanya sendiri, yang aku lihat dia masih belum puas dengan jawabanku. Dengan lantang dia berkata...
      "Saya tidak mengerti. Tolong jelaskan!"

Surat untuk Papah

Papah,  kini aku memilih untuk tetap bahagia. Setelah sekian banyak duka dan air mata yang kulauli dihidup ini tanpa sepengetahuanmu.
Tapi pah, mereka seperti tidak menyukai pilihanku.
Mereka seperti cemburu dengan kebijakanku.
Tanpa mereka tau bahwa semua adalah kepura-puraan saja untuk menutupi rasaku.
Bahkan mereka juga sering menguji kesabaranku dengan kata-kata fitnahan.
Aku tidak tau salahku pada mereka itu dimana Pah, niat untuk mencampuri urusan kehidupan mereka saja aku tidak ada. Malah kayanya aku juga tidak pernah sekalipun membuat masalah pada mereka.


Aku bingung Pah sama hidup ini.
Aku bingung dengan orang-orang yang selalu saja memanfaatkan kebaikan orang lain untuk kesenangan mereka sendiri.
Aku bingung ko ada orang yang tidak punya hati, menghakimi tanpa mengusut kebenaranya lalu menghukumnya.
Apakah jalan hidup sejatinya seperti itu ya Pah?
Kiranya aku termasuk anak yang kurang pengalaman hidup lah ya?
Atau mungkin kurangnya aku dalam belajar memahaminya?


Papah, aku takut sama kehidupan ini. Aku ingin sama Papah, disisi Papah selalu.
Karena selama ini Cuma Papah yang bisa membuatku tenang, nyaman dan damai.
Nggak seperti mereka yang selalu saja menyakiti dan mengecewakanku. Aku tidak suka itu Pah. Aku tidak suka...
Tolong bawa aku pergi dari belenggu ini!
Aku nggak mau terus-terusan hidup dalam keadaan ini. Aku mau Papah! Aku butuh Papah! Pokoknya aku mau Papah 😭
Biarpun aku harus meninggalkan kebebasanku, pun aku mau demi Papah. Malah aku berani meninggalkan semuanya untuk kebahagiaan Papah tanpa terkecuali.


Aku Sayang sekali sama Papah. Cuma Papah orang yang bisa mengerti aku dalam keadaan apapun.
Pokoknya Papah harus tunggu aku sampai pulang nanti ya!
Karena banyak cerita yang ingin aku bagi sama Papah.
Papah harus jaga kesehatan selalu!
Aku marah pokoknya kalau Papah masih kerja berat. Aku ingin Papah istirahat menikmati hari tua Papah bersama Mamah tanpa adanya kecapean. Sekarang giliran aku untuk menuntut tugasmu Papah. Papah tinggal terima beres aja dan yang pasti Papah cukup jadi lelaki hebatku yang kusayangi di sepanjang hidupku.
Hero kebanggaanku 😘


Wednesday, 24 August 2016

Apa! Jatuh Cinta Lagi?

Apa! Jatuh Cinta lagi?
Adu, duh...
Rsanya nggak dulu deh.
Luka kemarin juga belum kering masih membekas, kamu malah nanya hal begituan. Emang Cinta semurah Teh Tarik yang biasa kita santap dipagi hari diwarung sebrang Pak Kasim sono?
Ow wait, ngomong-ngomong Pak Kasim itu siapa ya?
Aku juga nggak kenal si, asal aja gitu sebut nama haha...
Kalau Iya benar murah, setiap pagi kali aku sudah ngrasain terus.
Eh tapi tunggu dulu deh, kalau Cinta itu murah yang ada cepet bosen tau. Ah nggak, nggak, nggak. Aku nggak setuju!

Bukanya apa si ya, kalau Cinta murah itu biasanya terlalu mengikutkan kata hati yang akhirnya akan menghancurkan perasaan. Bukankah sakitnya lebih dari menahan saat lihat orang jualan kue di pinggir jalan-jalan itu. Oh no nggak banget. Aku kan suka kue, nanti Cacing aku kelaperan gimana? Kan kasihan mereka kalau harus puasa 😭
Tapi beneran si Cacing apa perut aku ya?
Haha udahlah ya, whatever itu lah apa namanya. Pokoknya aku sudah NGGAK BANGET sama yang namanya patah hati.  Ajegile, dari umur aku 11Tahun mengenal apa itu Cinta sampai aku umur 23 gini. Rasanya aku belum nemuin tuh yang namanya Cinta Sejati, kalau Cinta Sakit hati Iya sering 😂 kasihan deh aku huhu...

Sampai kadang terlintas juga lho dalam pikiran "kapan aku menemukan reall pangeranku?" uuuhhh bahasaku kekinian banget. Dah kaya ABG labil diluar sana haha biarin aja deh ya, yang penting aku seneng. Nggak Galau, Galau mulu kaya kemarin 😢
Tapi ngomong-ngomong kapan itu kapan ya? haha gaje emang ini aku.
"Kadang-kadang" kalau kata si Mantan mah. Mantan yang super duper nyebelin tapi ngangenin.
Aish Mantan lagi 😭 kenapa si nama itu selalu saja ngikut dalam tulisanku. Dah kaya Toge aja (makanan kesuka'anku) wkwkwk kasihan Toge dibawa-bawa. Maafin ya Toge ({}) Aku khilaf 😁
Iya sekarang minta Maaf, besok juga diulangin lagi haha basi emang.

Udah lah jangan bahas basi, emang kamu pikir ini tulisanku nasi berkat semalam yang dianggurin apah. Kalau nasi lengko iyah, enak dan ngangenin 😄 Langsung laper aja aku ini denger nasi lengko Haha bener-bener dah.
Pokoknya deal ya! Cinta itu mahal. Dan hanya orang-orang tertentu (beruntung) saja yang boleh dapetin Cinta 😁 Kalau pun iya kamu tidak bisa mendapatkan Cinta, itu berarti tandanya belum beruntung dan harus coba lagi. Dalam artian berusaha lho ya, bukan mengundi 😆



Saturday, 20 August 2016

Kerinduan

Sore ini aku rindu sekali sama keluarga
Begitu sedih hati ini menahan rasa yang ada
Bagai ingin diungkapkan, tapi daya tak seupaya

Kuingat saat dulu aku berpuasa
Mamah akan menyiapkanku ice untuk berbuka
Papah juga pasti akan membawakan makanan kesuka'anku saat pulang kerja.

Tapi sekarang semua hanya kenangan
Yang bisa selalu diingat saat kurindukan

Tuhan...
Andainya aku bisa bertemu pada keluargaku sekarang juga.
Akan aku sampaikan pada mereka;
Bahwa aku selalu merindukan saat-saat bersama
Yang senantiasa kusimpan rapih dalam album memory keluarga kita.

Thursday, 18 August 2016

Khalalkan aku, jika kau ingin mendekatiku

Aku ingin mempunyai hubungan khalal dengan seseorang yang aku cintai.
Aku tidak menginginkan hubungan yang disertai zina.
Aku tidak mau Tuhan!

Bukan karena aku ingin sekali menikah, tapi karena aku tau berpacaran itu salah dimataMU.

Aku tidak baik, itu memang benar.
Aku nakal, itu memang benar.
Namun aku masih punya Iman yang selalu mengingatkanku tentang semua larangan-laranganMu.

Alpha kepadaMU, itu juga bukan inginku.
Jika boleh memilih, malah aku ingin selalu didekatMU.
Tidak seperti ini, jauhhh...
Tidak punya pegangan, yang ada hanya sedih dan takut.

Inginku


Tuhan...
Aku tidak pernah menginginkan untuk menjadi orang kaya
Karena yang aku harapkan adalah kebahagiaan Orang tua

Mereka adalah nafasku
Mereka adalah hidupku
Mereka adalah semangatku
Bukankah Engkau juga tau itu Tuhan!

Aku mohon kepadaMu...
Jagalah mereka untukku
Panjangkanlah umur Orang tuaku
Berikanlah mereka kesehatan selalu

Untuk masalah yang lainya...
Biarkanlah aku yang menerima
Asal jangan bebankan Orang tua

Sungguh...
Aku sayang sekali sama mereka Tuhan
Bahkan lebih dari nyawaku sekalipun


Wednesday, 17 August 2016

Hanya itu!

Maafkan aku, karena sudah berkata kasar kepadamu
Jujur aku tidak ada niat seperti itu
Tapi aku selalu diam pun kau tak pernah tau

Aku cape jika hanya kau anggap benalu
Aku lelah dengan sikapmu
Masalahku juga bukan hanya kamu
Apa kamu tau itu?

Bahkan setiap aku mencarimu
Kau hanya selalu menyakitiku
Dengan sikap kekanak-kanakanmu
Yang selalu membuatku kesal kepadamu

Apa pernah kau bertanya akan kabarku,
walau hanya untuk berbasa-basi?
Apa pernah kau tau akan keadaanku,
meski itu aku sedang sakit hati?

Aku hanya ingin kau berubah, itu saja!
Bukankah selama ini aku juga tidak pernah meminta apa-apa kepadamu.
Tapi untuk kali ini aku mohon kepadamu...

Berubahlah untuk menjadi lebih baik.
Setidaknya jika bukan untuk aku
Berubahlah untuk kabaikanmu
Agar kau bisa lebih menghargai aku, wanitamu!

Surat Untuk Pak Presiden



Pak Presiden yang saya hormati...

Bapak adalah orang tua bagi kami rakyatmu
Hero pemimpin bangsa indonesiaku
Teruslah berjuang!
Jangan pernah ada kata menyerah dihatimu

Biarkan mereka bersuara dengan kebodohanya
Biarkan mereka bertindak dengan sesuka hatinya
Asal Bapak jangan berubah niatnya.

Kami yakin Bapak pemimpin yang baik
Dipilih rakyat dari aura karismatik
Berjiwa diplomatik
Mampu bersabar pada mereka yang suka mengusik
Karena mereka hanya sirik.

Sehat selalu ya Pak!
Karena kami, rakyatmu selalu menunggu perubahan indonesia yang lebih baik
Berharap tiada lagi kabar "miris" pada anak-anak
Menginginkan indonesia damai, jauh dari keonaran

Tanamkan selalu pada kami motivasi
Dirikan semangat pada kami putra-putrimu
Sungguh...
Kami hanya berharap keadilan, tanpa menginginkan lebih dari yang memang sudah seharusnya kami dapatkan sebagai rakyatmu.




Coretan Kecil Untuk Masa Lalu

Ada banyak cerita yang aku simpan disini
Berkumpulan kata yang senantiasa dihati
Inginku eja pada langit yang terbirai
Namun daya tak lagi sebati
Oh indahnya kenangan lalu
Masih terasa dalam pelupuk mataku
Masih terbiar luas di ingatanku
Tentangmu...
Mana mungkin aku melupakanya
Kenangan indah yang memberiku makna
Pada sobekan-sobekan kertas dunia
Dalam bentuk kasih cinta
Kini...
Aku tanpamu bagai burung tak bersayap
Tak dapat terbang, hanya terkayup-kayup
Pada pohon yang terlap
Namun, siapa aku untuk menyapamu
Jika untuk melihatmu saja aku tak mampu
Meski sejujurnya aku merindui senyumu
Aku tak mungkin lagi menemuimu.
Oh kasihku...
Andainya rindu ini hanya berdosa
Biarkanlah penaku menari dalam rasa
Menembusi barisan kertas bertinta
Yang kan kutulis semua hanya tentang kita



Cerita Malam Tadi

Tulisan demi tulisan kini telah berbaris disetiap kamarku
Menjadi isi setiap tempat kosong dalam penaku
Memenuhi rongga-rongga mulut kesepianku

Marilah lihat kesini!
Kertas itu sudah tak lagi aku pakai
Kubiarkan ia kantoi
Istirahat sejenak melepas lelah malam tadi

Kusam tak bernyawa
Dalam tumpukan memory lama
Yang sudah enggan untuk kubuka
Kudengar bisikan jahat kembali bersuara

"Haha kasihanya...
Memang enak cuma jadi pembaca
Yang hanya melihat tanpa bisa merasa
Aku telah menang membuatmu alpa"

"Hmmm" Aku hanya mampu menggerem tanpa memperdulikannya.
Lalu kupilih diam, melanjutkan cerita yang masih menunggu tintaku seadanya.

Indonesiaku

Senja di kota sebrang 
Kini aku berdiri dalam gelapnya terang
Menanti datangnya pelangi
Dalam rumpuan indah bumi Pertiwi

Oh Indonesiaku...
Tanah kelahiranku
Sungguh indah pesonamu
Dari Sabang sampai Merauke pasti kutemukanmu

Teringat saat dulu Aku dilahirkan
Merah mentah dalam genggaman
Kini berkibar sudah bendera kedewasaan
Padaku anak Negrimu...

Kau bawa aku mengenal putihmu
Lalu kau ajarkan aku dalam keberanian Merahmu
Tak terhitung lagi berapa banyak pengorbananmu
Dari setiap perjuangan pahlawan-pahlawanmu dulu

Oh Indonesiaku...
Tanah kelahiranku
Negeri tercintaku
Aku bangga kepadamu.

Gigih Juangmu


Aku bersyukur bukan karena aku bahagia, bukan. Tapi karena aku tau, aku masih bisa merasakan ketenangan itu. Menikmati setiap detik dengan kedamaian, tanpa perlu berfikir atas apa yang sedang "menimpa" padaku hari ini.

Tuhan tak pernah jauh dariku, lalu untuk apa aku bersedih.
Tidak, aku tidak mau.
Waktuku sangat mahal untuk itu
Air mataku sangatlah suci untuk itu
Aku hanya ingin tersenyum walau apapun keadaanya.
Iyah! Itulah yang senantiasa Papah ajarkan padaku. 
Lelaki yang sangat aku kagumi, hero dalam keluarga dan pejuang sepanjang hidup kami yang tak pernah putus asa.

Lihatlah!
Betapa beliau sangat semangat pergi kesawah pagi-pagi, malah kadang juga subuh. Terus siang kadang harus membantu saudara yang meminta pertolongan, atau cucunya yang meminta main bersama. Lalu sorenya harus mencari rumput untuk kambing ternakan, belum lagi malamnya disaat ada tetangga yang mengundang untuk bertahlil. Hingga terlelap didepan Tivi.

Tidak malukah aku dengan semua itu?
Oh sungguh aku malu.
Malu karena tak ada apa-apanya dangan pengorbananmu Papah.
Keringatmu bagai berlian yang senantiasa memberikan kebeningan pada kami anak-anakmu dalam setiap tetesnya.
Lelap tidurmu menggambarkan seraut ketenangan dalam setiap keuletamu.
Hitam kulitmu itu adalah tanda gigih juangmu.

Papah...
Mampukah aku membahagiakanmu?
Bisakah aku membalas jasamu?
Kiranya, dengan apakah aku harus menebusnya?
Rasanya sudah banyak sekali yang sudah Papah lakukan untukku Pah. 
Maafkanlah aku, untuk setiap sikap yang tak terkontrol "itu".
Maafkanlah aku, untuk setiap sifat yang kadang tak pernah mengerti "ini" Pah. 
Papah gantungkanlah setiap harapan pada doa agar Tuhan memeluk dan menyampaikan padaku lewat caraNya.

Percayalah Pah! 
Meski bukan yang terbaik, janji Allah pasti selalu yang terindah untuk anak-anakmu ini. Dan kami selalu punya cara untuk membahagiakanmu Pah.

Thanks for your caring and bring me up. Love you so much Papah 😚

Khilafku

Kenapa aku harus menangis jika sudah ikhlas?
Kenapa aku mengharap balasan yang setimpal dari apa yang aku rasa selama ini?

Bukankah sejatinya itu semua memang Takdir yang mesti kujalani?
Tapi kenapa terkadang hidup ini tidak adil untukku Tuhan?

Maafkanlah aku Tuhan!
Jika aku mulai putus asa
Mungkin aku cuma butuh istirahat saja
Untuk bisa lebih mengerti semuanya >=|<