Wednesday, 17 August 2016

Gigih Juangmu


Aku bersyukur bukan karena aku bahagia, bukan. Tapi karena aku tau, aku masih bisa merasakan ketenangan itu. Menikmati setiap detik dengan kedamaian, tanpa perlu berfikir atas apa yang sedang "menimpa" padaku hari ini.

Tuhan tak pernah jauh dariku, lalu untuk apa aku bersedih.
Tidak, aku tidak mau.
Waktuku sangat mahal untuk itu
Air mataku sangatlah suci untuk itu
Aku hanya ingin tersenyum walau apapun keadaanya.
Iyah! Itulah yang senantiasa Papah ajarkan padaku. 
Lelaki yang sangat aku kagumi, hero dalam keluarga dan pejuang sepanjang hidup kami yang tak pernah putus asa.

Lihatlah!
Betapa beliau sangat semangat pergi kesawah pagi-pagi, malah kadang juga subuh. Terus siang kadang harus membantu saudara yang meminta pertolongan, atau cucunya yang meminta main bersama. Lalu sorenya harus mencari rumput untuk kambing ternakan, belum lagi malamnya disaat ada tetangga yang mengundang untuk bertahlil. Hingga terlelap didepan Tivi.

Tidak malukah aku dengan semua itu?
Oh sungguh aku malu.
Malu karena tak ada apa-apanya dangan pengorbananmu Papah.
Keringatmu bagai berlian yang senantiasa memberikan kebeningan pada kami anak-anakmu dalam setiap tetesnya.
Lelap tidurmu menggambarkan seraut ketenangan dalam setiap keuletamu.
Hitam kulitmu itu adalah tanda gigih juangmu.

Papah...
Mampukah aku membahagiakanmu?
Bisakah aku membalas jasamu?
Kiranya, dengan apakah aku harus menebusnya?
Rasanya sudah banyak sekali yang sudah Papah lakukan untukku Pah. 
Maafkanlah aku, untuk setiap sikap yang tak terkontrol "itu".
Maafkanlah aku, untuk setiap sifat yang kadang tak pernah mengerti "ini" Pah. 
Papah gantungkanlah setiap harapan pada doa agar Tuhan memeluk dan menyampaikan padaku lewat caraNya.

Percayalah Pah! 
Meski bukan yang terbaik, janji Allah pasti selalu yang terindah untuk anak-anakmu ini. Dan kami selalu punya cara untuk membahagiakanmu Pah.

Thanks for your caring and bring me up. Love you so much Papah 😚

No comments:

Post a Comment