Sunday, 25 September 2016

Cintaku dari Facebook

Hari ini langit kembali mendung, menutupi sinar yang sedari tadi memancarkan pada dinding-dinding dunia. Memberi kesejukan dalam penantianku ditempat kenangan.
Iyah! Inilah aktifitasku, merenung dan berdiam diri. Bagai entah siapa aku sendiri juga tidak kenal. Malah terkadang aku bingung dengan sifatku sekarang-sekarang ini. "Aku merindukanya!" Lagi-lagi kata itu yang terpacul dari hatiku. Bosanya...
Dret.dret... Satu pesan masuk dalam inbox facebookku. Media Sosial yang sekarang menjadi tempat untuk aku mencari inspirasi, sekaligus ingin melupakan sang Mantan. Bukan karena aku mencoba lari dari masalah lalu membuat Facebook baru yang hanya bertemankan dari orang-orang yang kukenal saja. Namun aku tidak mampu selalu melihatnya, malah aku juga takut jika aku selalu berada di Facebook lama, ianya akan membuat aku untuk melihat ke Inbox. Tempat dimana kita selalu berdiskusikan sesuatu disaat facebook masing-masing aktif. Biarlah mereka mau bilang aku lemah, aku tidak peduli. Karena aku punya cara sendiri untuk mengatasi masalahku.

Aku mencoba melihat-lihat ke profil cowok itu yang aku lihat namanya adalah Fandi. Iya biarpun aku tidak tau itu nama asli atau bukan, aku tidak mau ambil peduli!
Lama juga aku mendiamkan inboxnya sebelum akhirnya aku accept untuk bisa berhubungan denganku lewat inbox. Karena pengaturan privacy yang sengaja kubuat, agar tidak sebarang orang bisa menggangguku. Apalagi dunia maya yang penuh dengan permainan 😪
"Hai" ucapnya
"Hai juga" balesku singkat.
"Pacarnya Ragil yah?" Tanyanya, yang membuatku berfikir apakah mau mengiyakan atau menidakan. Biarpun Ragil adalah sahabatku, kalau iya aku mengiyakan pun bukanya dia akan marah. Tapi hatiku lebih pantas mengingatkan.., "Jangan berbohong, kalau nggak mau dibohongin"
Dengan pantas jariku pun memencet-mencet tombol dalam handponeku. "Bukan. Saya temanya"
"Alah jangan bohong, jawab jujur saja" Dalam diam aku memarahinya, karena mengahakimi sesuatu yang jelas-jelas sudah berkata jujur. Lagi-lagi hatiku berbisik, "biasa cowok kalau mau kenalan kan emang gitu" pikiranku mengiyakan bisikan itu,  yang akhirnya membawa kita pada obrolan yang tadinya membosankan menjadi obrolan yang menyenangkan. "Bagi nomernya dong, biar bisa contact" tuturnya berani, meski aku tidak heran dengan keadaan seperti itu. Jangankan dalam dunia maya, dalam dunia nyata saja kalau cowok baru deket pasti langsung minta nomer dengan alasan yang menurutku basi. 😧
"Kan lewat facebook bisa" jawabku.
"Aku jarang buka Facebook" ucapnya lagi tanpa menyerah.
"Tapi mahal lho kalau ngubungin saya lewat nomer" Ujiku.
"Tenang saja, kan bisa pakai WhatsApp atau line"
"Hmmm emang yah cowok, pinter aja jawabnya"
"He iya dong. Yaudah mana nih!"
"+6581******. Nih"
"Thanks yah!"
Belum sempat aku membalas pesan inboxnya, tiba-tiba dia sudah ngechattku lewat WhatsApp. "Cepatnya" gumamku dalam hati.
***

Malam itu aku kembali membuka Facebook untuk menyegarkan fikiran setelah terperap 3 jam memandangi buku-buku didepanku. Kesibukan yang memang bener-bener mengambil tenaga juga otak.
Hampir satu jam aku berpetualang mengitari rimba yang penuh misteri. Hingga tidak sedar waktu belajarku telah habis. Aku segera membereskan semua buku-buku yang berserakan dan buru-buru keluar dari kamar untuk melanjutkan kerjaanku.
Hingga jam 19:15 aku kembali ke kamarku untuk mengambil baju ganti, tiba-tiba hapeku berbunyi.
Pink.pink...
Aku langsung membuka pesan itu yang ternyata dari Fandi. Kami pun berbalas pesan untuk beberapa menit, sebelum akhirnya aku pamit mau mandi.
Rasanya itu adalah malam ke tiga Fandi menghubungiku dari pertama dia mengetahui nomerku. Semua masih terasa biasa, malah aku juga bersikap biasa juga kepadanya. Sama seperti sikapku pada yang lain. Meski aku juga kadang tidak suka dengan cara tulisannya yang kadang membuatku Elfell. Tapi rasanya menghakimi itu bukanlah sifatku, ujung-ujungnya aku berpura-pura tidak peduli dengan semuanya. Lagipun aku merasa nyaman denganya, membuatkan aku lupa akan Mantan. Seseorang yang memang sudah seharusnya aku lupakan. Karena Mantan bukan pahlawan untuk dikenang. Itulah kata-kata Fandi yang sedikit banyak telah membuatku menyadari sesuatu.


45 hari pun berlalu...
Kekhawatiranku akhirnya pun kini terjadi. Fandi sudah lama tidak chatt aku lagi. Aku merasa kesepian walau hiburan didepan mataku sebenarnya banyak. Semua yang aku lakukan juga tidak kena. Seperti ada yang hilang. Hatiku pun merinduinya...
Perasaan cemas mulai menghantuiku.
Ingin menghubungi, namun aku tidak berani. Sudahnya jalan diam itulah yang aku pilih. Dan kembali mencari kesibukan baru tanpa mau memikirkanya, apalagi setelah kemarin aku melihat ke profilnya tidak sengaja mendapat info yang dia sebenarya sudah mempunyai Pacar. Hmmm cemburukah aku? Tidak, itu tidak mungkin. Karena aku yakin itu hanya perasaan setan saja yang sedang mengujiku. Aku mencoba menidakan dan kembali ke alam realita. Apalagi mengiyakan perasaan yang hadir, itu tidak akan kulakukan. Malah itu adalah sesuatu yang coba selalu aku hindari.

Siang itu aku memberanikan diri untuk mengechatt Fandi untuk bertanyakan sesuatu setelah aku lihat dia mengelike statusku. Meski sebenarnya itu hanya suatu alasan, tak apalah ya he...
"Aku lagi kerja Nit, maaf yah balesnya lama" tulisnya, setelah 1 jam aku menunggu balesan darinya.
"Iya tidak apa ko Mas."Kami pun kembali chatting lagi. Berbagi animation yang mengundang tawa dalam setiap tulisanya. Memberi ruang hatiku untuk merasa bahagia. Kebahagiaan yang aku tau itu hanya sesaat...

No comments:

Post a Comment